Pemilihan KetOS (Ketua OSIS) yang serampangan

Hari itu Kamis, 20 Agustus 2009, kami para murid dan para guru dikejutkan oleh momentum Pemilihan KetOS. Bukan acara pemilihannya yang membuat kami terkejut.
Tetapi para kandidatnya yang bikin semua terkesima, terpana, bahkan samapi tergeleng-geleng. 1-2 hari sebelumnya memang telah digembar-gemborkan oleh Pak Setyo (Wakasek Kesiswaan dan Pembina OSIS) bahwa para kandidat KetOS adalah:
1. Indra Wilisman XI IPS
2. Ali Wijaya XI IPA
3. Stanley XI IPA
Hal ini sempat membuat seluruh civitas akademi SMAK KARITAS 3 terkejut bukan main. Bagaimana tidak, ketiga siswa tersebut bukan berasal dari pengurus OSIS. Pun ketiganya belum lulus Latihan Dasar Kepemimpinan Sekolah (LDKS). Para siswa dan para guru sama sekali tidak menghendaki. Apalagi salah satu kandidat; Stanley, adalah siswa ‘pindahan’ dari SMA di kota Palu yang baru sebulan ini masuk SMAK KARITAS 3. Pikiran dan kehendak apa hingga Pak Setyo berani bertindak diluar tata aturan Pemilihan KetOS. Lalu dengan mudahnya menunjuk ketiga siswa tersebut untuk dicalonkan menjadi KetOS. Para guru pun merasa tidak diajak dalam membahas kriteria penentuan KetOS. Menurut banyak siswa yang mereka tidak mau disebutkan namanya; bahwa para kandidat tersebut mendapat ancaman dari pak.Setyo , yakni jika tidak mau ditunjuk menjadi calon KetOS akan diberi nilai 5 untuk pelajaran Kewarganegaraan. Begitupun para siswa dipaksa melalui para ketua-ketua kelas untuk tidak menolak kebijakan ini.
Wah kenapa ‘Pemilu’ tingkat sekolah saja sudah begitu banyak paksaan, ancaman dan intimidasi….??

Akhirnya hal itu masih terus berlangsung, sementara Ibu Marta sedang tidak ada di tempat karena sedang menjalani opname di RS.Brawijaya akibat sakit tumor. Hari Kamis tersebut rupanya oleh pak.Setyo segera bergerak cepat mengganti seorang kandidatnya yakni: Jean Marie Nicholas XI IPS
Lalu pemilihan itupun dilaksanakan secara tergesa-gesa oleh pak Setyo dengan memasuki kelas per kelas. Setiap kelas memberikan suaranya, para guru pun sudah ‘mencontreng’. Penghitungan suara pun dilakukan secara tertutup tidak disaksikan oleh seluruh siswa dan guru. Tiba-tiba pak.Setyo mengumumkan bahwa Ketua OSIS adalah Jean Marie Nicholas, yang menurut para guru bahwa siswa tersebut tidak berwibawa, yang pula menurut para siswa bahwa dia tidak piawai dalam berorganisasi.
Seluruh penghuni sekolah kita semakin terheran-heran dengan cara berdemokrasi yang serampangan ini. Lantaran faktanya adalah bahwa ‘Golput’ menjadi suara terbanyak dalam momentum Pemilu OSIS tersebut
Sangat berbeda dengan tahun lalu yang dilakukan secara terbuka, jujur dan adil di halaman sekolah seperti layaknya Pemilu Legislatif ataupun Pemilu Presiden, yang menobatkan Irene-Irish sebagai pemimpin OSIS periode 2008-2009.

Ini menjadi keprihatinan seluruh siswa dan guru SMAK KARITAS 3, yaitu model demokrasi yang dilakukan oleh pak.Setyo dengan penuh penyimpangan. Mulai dari sistem rekruitmen yang asal tunjuk, penghitungan suara yang tertutup, dan masih banyak lagi kecurangan yang terjadi.
Sudah selayaknya Pemilu OSIS ini diulang, dan seharusnya memang kudu diulang jika kita ingin belajar berdemokrasi dengan baik dan benar. Bukan ‘demo crazy’ yang penuh paksaan, ancaman dan intimidasi.
Kita tunggu saja ketika Ibu Marta sembuh dan kembali menjalankan tugasnya sebagai Kepela Sekolah yang akan bersama para guru untuk membicarakan dan mencari jalan keluar yang lebih bisa diterima oleh semua siswa dan para guru. Sehingga juga akan membawa kebaikan bagi suasana proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan sekolah kita tercinta. Semoga…
(oleh Tim OSIS SMAK KARITAS 3)

Statement SUARA KASIH

Pak Kusnan dan Pak David, motor prestasi bagi Karitas 3

Kurang lebih 1 tahun silam, dua orang yang tak terkesan pembina sekolah menapakkan kaki-kaki mereka di halaman Karitas 3. Awalnya kami para siswa meragukan kehadiran kedua orang tersebut sebagai Pembina ekskul kami., pak Kusnan sebagai Pembina Teater dan pak David sebagai Pembina band/musik. Maklumlah, sosok mereka jauh dari menarik dan perlente. Adapun latar belakang pak Kusnan adalah masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Dr.Soetomo dan pemain teater Sanggar Suroboyo. Lalu pak David adalah jebolan Sarjana Sosiolog Univ.Airlangga dan personil Lontar Band.

Perkenalan dan kedekatan kami dengan beliau berdua, dimulai sejak LDKS yang dimotori OSIS generasi Tuna-Debrina. Pak Kusnan dan pak David menjadi pendamping LDKS. Sejak saat itu dan di hari-hari kemudian, para OSIS dan para siswa semakin mengenal beliau berdua sebagai sosok yang menyenangkan dan mengasyikan. Tak hanya anak-anak OSIS, bahkan Anak-anak Band, anak-anak Futsal, anak-anak Basket, anak-anak Dance, anak-anak Teater; semuanya merasa nyaman berkegiatan dan didampingi oleh beliau berdua. Hingga tak jarang pula anak-anak curhat pada pak Kusnan atau pak David tentang masalah dengan pacar, hingga dengan keluarga mereka. Tak heranlah jika banyak para orang tua yang lebih mempercayakan kami untuk didampingi oleh pak.Kusnan dan pak David. Ketimbang oleh guru lain. Bahkan hanya pada beliau berdua-lah, tak sedikit anak-anak Karitas 3 yang dengan ikhlas mencium tangan saat berpamitan pulang. Tidak pada guru lain. Keakraban itu pun berbuah panggilan ‘Papi’ untuk pak Kusnan dan panggilan ‘Babe’ untuk pak David.

Kedua sosok ini bodoh bermain futsal, basket, apalagi modern dance. Tapi entah kenapa selalu dipilih anak-anak untuk menjadi pendamping pada event-event; live in ke desa terpencil, futsal, basket, dance, dan band ; diluar sekolah. Terbukti spirit dan support beliau berdua menjadi semangat terbaik bagi anak-anak Karitas 3.

Anak-anak ‘Lexus’ dance pun berhasil lolos masuk babak final kompetisi dance di Univ.Widya Mandala. Lalu pada sepekan acara Deteksi Convention 2008 di hall PTC. Pula MusicFest 2009 : Acara besar yang sukses besar pula: yang menghadirkan Roy Jeconiah ‘Boomerang’, adalah pula hasil kerja keras dampingan pak Kusnan dan didikan ‘event organizer’ yang keras dari pak David terhadap anak-anak OSIS. Hingga kemarin beliau berdua-lah yang mendampingi anak-anak basket bertanding di acara bergengsi DBL-Jawa Pos.

Pada pertangahan bulan Maret 2009, pak Kusnan dan pak David, berencana akan mengundurkan diri. Menurut penuturan pak Kusnan ; Hal itu disebabkan karena perilaku pak Setyo yang tidak transparan dalam hal dana kegiatan acara MusicFest 2009 yang menghabiskan puluhan juta rupiah. Namun kami semua mencegahnya, beberapa anak sempat menangis, hingga ada salah satu dari kami yang membuang surat pengunduran diri ke lahan kebun belakang sekolah. Akhirnya pak Kusnan dan pak David tetap bertahan di SMAK Karitas 3.

Prestasi-prestasi terbaik pun terukir sudah dalam hitungan bulan keberadaan beliau berdua mendampingi anak-anak di Karitas 3. Tercatat:

- Pak Kusnan mengerahkan 130 anak-anak Karitas 3 untuk beraksi di Deteksi Convention 2008, alhasil kita berhasil meraih predikat dan piala The Best Campaign.

- Pak David berhasil melambungkan AKAR band meraih Juara Pertama/Band terbaik dalam Univ.Ciputra Band Chronicle Festival.

- Pak David kembali berhasil membangun REFAT band (yang masih kelas X) sebagai The Best Talented dalam Christmast Song Festival di ITC Surabaya.

- REFAT band berhasil lolos sebagai 8 band terbaik (menyisihkan 60 band) dalam Festival Band Pelajar SMA se-Surabaya yang diadakan oleh Diknas Surabaya.

- REFAT band berhasil lagi masuk sebagai Grand Finalist dan menyabet Bassist Terbaik dalam Sonora Music Competition.

- Hingga kemarin REFAT band kembali masuk dalam G-Walk Festival menyisihkan 50 band

Wajarlah jika pak Kusnan dan pak David bisa menyatu menjadi sahabat, guru, sekaligus orang tua kedua bagi anak-anak Karitas 3. Tak bisa dipungkiri, beliau berdua pantas kita sebut sebagai motor prestasi dan kemajuan bagi SMAK Karitas 3.

(dari berbagai sumber : Tim IKAN OSKAR)

SEUTAS KRONOLOGIS ‘TRAGEDI SUARA KASIH’

- Selasa, 14 Juli 2009, pukul 13, saat MOS berlangsung, pak Setyo (Wakasek Kesiswaan) memberitahu pak David (pembina musik/band) bahwa sesuai rapat guru maka ruang band/ruang kesenian akan dipindah ke ruang lantai 3 (bekas ruang kelas XII IPS 2).

- Rabu 15, Juli 2009, pukul 11, MOS hari terakhir usai, bu Herlina menyuruh Pak David agar hari itu juga mengerahkan anak-anak untuk mengangkut peralatan band ke ruang lantai 3. Tetapi tak digubris oleh pak David karena beliau melihat anak-anak yang kelelahan seusai MOS.

Tentang dipindahnya ruang band ke lantai 3, OSIS dan anak-anak ekskul band merasa keberatan. Selain faktor berat dan amat melelahkan, tidak efektif, tidak efisien, dan kapabilitas ruang tidak memenuhi syarat. Jika dilihat dari nilai spiritnya, selama 1 tahun terakhir ini, pak David dan pak Kusnan (pembina teater) telah ‘mengubah’ nilai ruang band menjadi tempat berkumpul para siswa dalam segala kegiatan apapun. Tak hanya dipakai untuk latihan band saja. Tetapi digunakan untuk seleksi peserta lomba Deteksi-Con 2008, rapat panitia kegiatan OSIS, pembuatan Mading, sekretariat MOS, bahkan untuk Tumpengan Perpisahan siswa yang lulus kemarin. Hingga ruang band tersebut layaknya ‘icon’ SMAK Karitas III.

- Kamis 16 Juli 2009 sekitar pukul 11.00, pak Setyo memasuki ruang-ruang kelas dan meminta ijin pada guru pengajar untuk meminta 2-3 siswa membantu mengangkat peralatan band plus sound system ke ruang lantai 3. Sempat ada ketegangan pada kejadian ini. Banyak siswa yang tak mau dengan alasan yang masuk akal; berat dan capek! Pun bu Yessi yang juga meminta kepada pak Setyo agar pemindahan tersebut dilakukan diluar jam pelajaran. Tetapi semua alasan itu tidak diterima oleh pak Setyo. Beliau menjelaskan bahwa hal ini adalah kebijakan sekolah dan kehendak pak Agus (Kepala Sekolah). Akhirnya anak-anak pun terpaksa menurut karena takut dianggap melawan dan tak mau nantinya dimarahi pak Setyo.

- Masih di hari yang sama, pukul 14.00, kurang lebih 15 anak OSIS berdatangan di rumah pak Kusnan. Pun pak David juga diminta datang. Anak-anak OSIS rupanya berkeluh kesah, mengadu, dan curhat kepada pak Kusnan dan pak David yang selama ini selalu mendampingi setiap kegiatan OSIS dan para siswa. Semua keresahan itu mengenai perlakuan pak Setyo yang selama ini dianggap tidak menyenangkan. Pak Kusnan dan pak David menyatakan bahwa mereka tidak bisa membantu lebih karena merasa bukan guru, hanya pembina ekskul. Namun pak Kusnan dan pak David hanya bisa mendampingi perjuangan anak-anak OSIS walau harus sampai ke Yayasan Yohanes Gabriel II.

- Alhasil pada hari tersebut, lahirlah sebuah statement yang bertajuk; SUARA KASIH SMAK KARITAS III (lihat kolom lampiran) ; yang berisi banyak sisi negatif perlakuan pak Setyo yang tidak mengenakkan pada para siswa. Surat pernyataan tersebut rencananya akan diserahkan pada Kepala Sekolah dan Yayasan, pada Selasa 22 Juli 2009 nanti.

- Selasa 22 Juli 2009, jam 14.30, sepulang sekolah, sekitar 10 anak OSIS menghadap pada Romo Budi Hermanto sebagai pimpinan tertinggi Yayasan Yohanes Gabriel II. Mereka didampingi oleh pak Kusnan dan pak David. Romo Budi hanya melihat bahwa ini permasalahan sepele yang tidak berbukti nyata.

- Rabu 23 Juli 2009, jam 8.00, semua anak OSIS dikumpulkan dan berhadapan dengan pak Agus dan pak Setyo. Beliau berdua tampak sangat marah dengan anak-anak OSIS yang telah mendatangi kantor Yayasan. Anak-anak OSIS merasa semakin takut dan tertekan.

- Pada hari yang sama, jam 10.30, pak David dan pak Kusnan dikeluarkan oleh pak Setyo dari SMAK Karitas 3. Dengan alasan bahwa ekstrakurikuler band dan teater divakumkan.

Demikian kilas balik kasus tersebut. Memang banyak hal diatas yang bisa memicu pro-kontra. Namun apapun itu, bahwa visi cinta kasih harusnya tetap menjadi hal yang terutama dalam setiap permasalahan di sekolah kita. Berikut akan kita ulas sedikit tentang pak David dan pak Kusnan, kedua manusia yang kontroversi ini hanya pembina ekstrakurikuler namun kenapa mampu menjadi tempat bertanya ibarat guru, tempat curhat layaknya sahabat, dan tempat mengadu bagai ortu kita. Pun tak ketinggalan kami juga akan memasang statement ‘Suara Kasih’ tersebut. Supaya kita tidak salah memahami kasus tersebut. (dari berbagai sumber: Tim)

Kasus 'Tragedi Suara Kasih'

Hai..hai..hai sobat muda Karitas
Salam pula buat kalian yang udah lulus alias para alumnusnya

Semua sehat-sehat selalu kan? So pastilah

Kita akhirnya kudu kembali mengisi lembar demi lembar di blogspot tercinta ini karena di awal lembaran baru tahun ajaran 2009-2010 ada sebuah kasus yang menarik untuk kita ulas. Apanya yang menarik sih koq sampai segitunya??

Yah, dibilang kasus gede juga toh hanya pemutusan kerja dua guru honorer yang biasa terjadi di berbagai sekolah. Namun juga tak bisa dibilang sederhana, karena nyatanya runtutan kasusnya makin kekini makin menghebat bagai bola salju yang terus menggelinding dan membesar. Kasus itu menjadi marak dan penuh polemik. Dukungan maupun desakan transparansi kasus tersebut terus mengalir deras via online dalam berbagai media , diantaranya: FaceBook, Multiply, Blogspot, dan Yahoomail. Sehingga dari hari ke hari kasus ini makin ramai dibicarakan dengan berbagai komentar caci hingga kritis dari berbagai pihak. Bukan sekedar dari siswa dan alumnus SMAK Karitas 3. Tetapi juga dari para; wartawan, aktifis kampus, LSM, budayawan, seniman, wah banyak deh.

Nah…tentu ‘Suara Karitas’ juga tak mau ketinggalan dong buat mengulas kritis masalah tersebut. Maka ada baiknya kita simak bareng yuk…(Redaksi)

DAFTAR NILAI UJIAN SEKOLAH

DAFTAR NILAI UJIAN SEKOLAH

DAFTAR KELULUSAN dan NILAI UNAS

DAFTAR KELULUSAN dan NILAI UNAS

Simulasi Mading

“ Tekad kami telah bulat, langkah kami tak akan mundur. Karena kami telah membuat komitmen bahwa tahun ini SMAK Karitas III akan berpartisipasi dalam Espresso Deteksi Con 2k8”

Nama SMAK Karitas III Surabaya mungkin belum begitu popular di kompetisi madding yang diadakan Deteksi setiap tahun ini. Karena selama ini dari berbagai jenis lomba yang diadakan, SMAK Karitas III hanya pernah mengikuti kompetisi Jurnalis dan custom shoes. Namun, di tahun 2008 kami telah membulatkan tekad untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam Espresso Deteksi Con 2k8. Ini pertama kalinya kami mengikuti hampir semua kompetisi yang diadakan pada tanggal 21 – 30 Noveber 2008, dan tak sedikit rintangan yang menghadang. Namun semua itu tak menciutkan nyali kami karena yakin bahwa Tuhan akan selalu melindungi setiap langkah anak – anaknya. Dari 8 kompetisi yang diperuntukan bagi tingkat SMA, kami mengikuti 7 kompetisi antara lain Mading 2D, mading gerak, kompetisi jurnalis, kompetisi model, kompetisi band, custom shoes, dan OZ deteksi challenge. Sebenarnya persiapan untuk mengikuti 7 kompetisi ini telah diadakan mulai awal September, dan setelah selesai mendaftar pada tanggal 29 September 2008, para peserta Mading 2D dan gerak, jurnalis, Custom shoes dan OZ yang tidak mudik berkumpul di sekolah. Pada pukul 10 pagi semuanya telah berkumpul. Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan masing – masing. Tim mading 2D dan gerak mengadakan simulasi madding, tim custom shoes terlihat sibuk menggambar sketsa sepatu yang akan dimodifikasi, peserta OZ melengkapi formulir pendaftaran sedangkan peserta jurnalis memperbaiki essai yang akan dikirimkan ke Deteksi sebagai salah satu persyaratan mengikuti Jurnalist Blog Competition.

Tim madding terlihat membuat simulasi untuk mading 2D di hari pertama simulasi mading ini. Mereka membuat replika madding dalam ukuran yang mini. Mereka tak nampak kelelahan, semua anak nampak bersemangat bekerja. Irene, Ketua OSIS SMAK Karitas III nampak terlihat sedang bekerja bersama tim mading. Sebenarnya membuat madding bukan hal baru bagi Irene, pada saat di SMP, Irene dan Irish kembarannya pernah 2 kali mengikuti kompetisi mading on the spot (kompetisi mading untuk tinkat SMP) di Deteksi madding 2k5 dan Deteksi madding 2k6. Selama itu pula mereka mendapat gelar top ten. Dan pengalaman tersebut menjadi bekal yang pastinya berguna dalam mengikuti kompetisi mading 2D dan gerak tahun ini. Ketika pukul 12.00 simulasi hari pertama itupun diakhiri.

Esoknya pukul 09.00 sebuah sepeda motor bewarna merah memasuki halaman SMAK Karitas III. Setelah memarkirkan motor dan melepas helm, pengemudinya yang trnyata Jang – Jang siswa kelas XII IPA memilih duduk sambil menunggu yang lain datang. Kurang lebih 30 menit kemudian sebagian besar tim mading, jurnalis, custom shoes dan model terlihat telah datang, beberapa menit kemudian Pak Kusnan dan Pak David datang. Simulasi mading hari kedua pun dimulai. Hari ini tim madding membuat simulasi mading gerak. Tema sudah ditentukan dan bahan serta alat telah disiapkan. Masing – masing anggota tim pun mengerjakan tugas masing – masing supaya lebih cepat selesai.

Di sela – sela mengerjakan mading, pak Kus memanggil semua anak dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang banyak hal. Setelah selesai menjawab pertanyaan semuanya kembali bekerja. Hari ini memang terasa sedikit berbeda, karena hadirnya Jovita, Leni.O dan juga Rosi yang akan mengikuti kompetisi model deteksi. Ketiga cewek cantik itu dibimbing oleh Pak Kus. Mereka diberi pembelajaran tentang banyak hal. Sekitar pukul 12.00 beberapa anak pulang. Namun beberapa meneruskan pergi wawancara untuk mencari bahan artikel mading 2D di Jl.Balongsari hingga sekitar puluk 15.00

Perjuangan persiapan untuk mengikuti Espresso Deteksi Con 2k8 yang dilakukan oleh SMAK Karitas III masih akan terus berlanjut, karena kami telah bertekad agar sekolah kami dapat menang. Dan simulasi mading ini merupakan awal dari sebuh cerita dan kami berharap cerita ini memiliki akhir yang bahagia.

Oleh:
Camelia A.R

IBUKOTA LEBIH KEJAM DARIPADA IBU TIRI

Banyak orang yang mengetahui jika lebaran, kota besar seperti Jakarta akan menjadi sepi, disebabkan oleh para penduduknya yang mudik ke daerah asal. Namun ada yang berbanding terbalik, banyak orang dari kampung yang datang ke ibukota dengan harapan dapat memperbaiki nasibnya. ada perkataan "ibukota lebih kejam daripada ibu tiri" dan perumpamaan itu ada benarnya juga. Para pendatang menganggap bila mereka datang ke Jakarta, dapat merubah nasib mereka menjadi tak miskin lagi bahkan menjadi orang kaya. Pada kenyataannya bukan jadi orang kaya, mereka menjadi lebih miskin di Jakarta karena kurangnya kemampuan dan juga tidak memiliki ijazah. Banyak diantara mereka akhirnya menjadi pengemis, pengasong, pengamen atau sebagai pembantu rumah tangga.

Banyak cara yang dilakukan oleh para pengungsi untuk mendapat belas kasihan orang lain. Ada yang menggendong anak kecil, memakai baju kumal, berpakaian seperti banci ataupun berpura - pura menjadi orang cacat. Namun sekarang sering diadakan razia untuk memindahkan para pengemis tersebut ke panti sosial. Menurut data tahun 2004 jumlah "gepeng" di Jakarta terdapat 6884 orng yang terdiri dari 49 % pengemis, 35 % pengasong dan pengamen, dan 16 % tidak jelas. Maman Achdiyat, sebagai kadis bina mental dan kesos mengatakan "Kami akan terus berusaha menghilangkan para pengemis, pengamen dan juga gelandangan karena kami ingin pemandangan di Jakarta menjadi lebih indah".

oleh:
Camelia A.R

Fenomena Pendidikan Saat Kini

Setiap orang tua pasti menginginkan buah hati mereka mendapat pendidikan yang terbaik. Ada orang tua yang mengidam – idamkan anaknya dapat menuntut ilmu di sekolah negri, namun ada juga yang lebih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Dahulu, banyak yang beranggapan sekolah Negri jauh lebih baik daripada sekolah swasta, karena sekolah swasta dianggap sebagai ”buangan” sekolah Negri. Namun seiring berjalannya waktu semua itu tak terbukti. Tak jarang sekolah swasta dapat mengungguli sekolah negeri dalam beberapa kompetisi, baik dibidang akademis maupun non akademis. Namun bila akan masuk ke sekolah swasta, pasti yang terutama harus disiapkan adalah ”uang”. Karena hampir kebanyakan sekolah swasta mengutamakan meteri yang jumlahnya tak sedikit. Uang sekolah yang mahal, belum lagi uang gedung, uang kegiatan dan sumbangan-sumbangan lainnya. Di tahun 2008 ini, sekolah swasta di Surabaya seperti menjamur. Mulai dari sekolah swasta dengan uang sekolah dengan uang sekolah ratusan ribu hingga jutaan per bulan, Dari yang hanya memakai 1 kipas angin hingga yang memakai 3 ac pada setiap ruang kelasnya. Seperti sebuah SMA swasta bertaraf Internasional di salah satu kawasan perumahan elit di Surabaya Barat, uang gedung yang harus dibayar calon siswanya mencapai berpuluh – puluh juta. Uang sekolahnya rata – rata Rp. 3.000.000,00 per bulannya. Itu belum termasuk biaya buku pelajaran, seragam, dan masih banyak biaya tambahan yang lain. Sungguh miris melihat uang berjuta – juta yang dengan gampang dibayarkan oleh mereka yang punya banyak uang, namun di luar sana masih banyak anak yang harus meminta – minta uang di lampu merah di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan sesuap nasi, beberapa di antara mereka harus melupakan keinginan untuk dapat bersekolah. Sebut saja Budi, setiap pagi ia sudah harus membawa karung di punggungnya dan mulai mencari barang – barang bekas yang dapat dijual kembali, siangnya ia pergi ke komplek sekolah Karitas III dan mencari gelas air kemasan bekas. Sorenya ia mengamen di lampu merah Bon Ami, Darmo permai. Terkadang ia iri melihat anak yang memakai seragam. Sering terpikirkan mengapa ia tidak bisa bersekolah seperti anak – anak yang lain padahal ia sudah bekerja keras membantu orang tuanya. Namun semua hal itu harus ia singkirkan jauh – jauh karena bila terus menyesali nasib, ia tak akan pernah maju.

Walaupun pemerintah telah memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan adanya sekolah Negeri yang muridnya dibebaskan dari uang sekolah, namun itu belum menyelesaikan masalah karen walaupun tidak membayar uang sekolah, para orang tua terkadang tak mampu membayar uang seragam, buku pelajaran dan juga uang saku. Semua ini adalah sebuah Fenomena yang terkadang tak disadari, namun hal ini penting karena generasi muda adalah Bangsa Indonesia.

Oleh:
Camelia A.R

Berbagai Tradisi Lebaran

Setelah 30 hari berpuasa akhirnya pada tanggal 1 Oktober, umat muslim merayakan hari idul fitri atau yang sering disebut hari lebaran. Banyak tradisi yang dilakukan oleh umat muslim ketika menyambut hari kemenangan, antara lain berkeliling kota di malam takbiran, melakukan sholat ied dihari pertama lebaran, saling bermaaf-maafan, sungkeman kepada orang tua, mudik, mengunjungi sanak saudara, memberi zakat kepada orang miskin hingga memberikan ”salam tempel” kepada saudara yang masih kecil. Biasanya, beberapa hari menjelang lebaran, umat muslim akan mudik ke daerah asal mereka untuk berkumpul bersama dengan keluarga besar di kampung. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya ataupun kota besar yang lain akan sepi karena banyak ditinggal oleh penduduknya yang mudik. Saat malam takbiran, ada berbagai kegiatan yang dilakukan seperti berkeliling kampung atau kota, berjalan ramai-ramai sambil membawa obor, namun ada juga yang memilih berkumpul bersama keluarga di rumah. Dan esoknya pada hari lebaran tanggal 1 Oktober 2008, umat muslim melakukan sholat ied. Ada sesuatu yang menarik yang terjadi disaat umat muslim melakukan sholat ied, para pengemis baik anak kecil, orang dewasa, dan juga manula telah duduk berjejer dengan tangan mengadah untuk meminta uang dari para jamaah yang telah selesai sholat. Setelah sholat biasanya mereka kembali ke rumah untuk sungkeman kepada orang tua, saling bersalam-salaman dan saling memaafkan, para umat muslim biasanya melanjutkan untuk pergi berkunjung ke rumah saudara ataupun pergi berekreasi. Ada satu lagi tradisi yang banyak dilakukan umat muslim pada saat lebaran yaitu memberikan salam tempel kepada keponakan atau saudara yang masih kecil. Yang memberikan salam tempel adalah orang yang sudah memiliki penghasilan. Jumlah uang yang diberikan pun bervariasi. Namun tradisi itu tidak harus dilakukan, tergantung kemampuan dari masing-masing orang.

Ada juga tradisi yang dilakukan di Solo dan Yogyakarta bila lebaran, yaitu gunungan grebeg syawal. Tradisi itu dilakukan Kraton Yogyakarta dan Solo. Maksud dari gunungan grebeg syawal itu adalah persembahan raja kepada rakyatnya, serta rasa syukur kepada Tuhan YME karena telah melakukan puasa selama sebulan. Gunungan grebeg syawal berisi berbagai hasil bumi seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang akan diperebutkan oleh beribu-ribu warga. Mereka mempercayai bila mendapatkan salah satu bagian dari gunungan grebeg syawal akan mendapat berkah. Dan pastinya masih banyak tradisi lebaran di berbagai daerah di Indonesia.

Oleh: Camelia A.r

Hari Liburan Bukan Berarti Hari Santai

Libur lebaran memang begitu menyenyenangkan bagi semua siswa SMAK Karitas III karena sebelumnya semua siswa menghadapi Ulangan Tengah Semester (UTS) selama 6 hari. Penat, bosan dan jenuh seakan menghilang saat hari libur datang. Ada yang mudik ke daerah asal masing –masing, ada yang berlibur ke berbagai kota di Indonesia maupun di luar Negri, namun ada juga yang memilih untuk beristirahat di rumah. Suryono, siswa kelas X2 ini memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktu liburannya di rumah. Memang pada hari Minggu, 28 September 2008 ia pergi ke Malang bersama keluarganya, namun ia tidak menginap karena esoknya ia ingin datang ke simulasi mading di sekolah.Ia mengaku liburan kali ini sangat berbeda dengan liburan – liburan sebelumnya. Dulu bila ia berlibur ke luar kota pasti akan menginap untuk beberapa hari. Dan yang terutama bebas dari belajar dan mengerjakan tugas. Namun liburan kali ini, selama liburan ia harus membaca koran dan mengikuti berita terbaru setiap hari, belajar bahasa Inggris dan juga pelajaran akademis yang lainnya. Itu semua dilakukan untuk mempersiapkan diri karena pada bulan November nanti Ia bersama Dion dan Sonta akan mengikuti OZ deteksi challenge yang diadakan pada saat Espresso Deteksi Con 2k8. ”Aku dan Dion pasti akan berusaha semaksimal mungkin agar membuat keluarga besar Karitas III bangga, dengan memberikan kemampuan terbaik yang kami miliki” janji Suryono. OZ deteksi challenge adalah kompetisi adu cermat yang menggunakan bahasa Inggris. Materi pertanyaannya pun meliputi pelajaran akademis, pengetahuan umum maupun gosip atau berita yang sedang dibicarakan oleh banyak orang. Dan pasti setiap SMA yang mengikuti OZ deteksi challenge tersebut, pasti akan mengirimkan siswa – siswa terbaik yng ada di sekolah mereka. Suryono dan Dion sebagai tim utama dan Sonta sebagai pemain cadangan merupakan siswa terpilih yang diberi kepercayaan untuk mewakili SMAK Karitas III.

Mungkin tahun ini pertama kalinya SMAK Karitas III mengikuti kompetisi adu cermat dalam bahasa Inggris ini, namun persiapan yang dilakukan begitu serius. Mulai bulan Oktober setelah liburan lebaran ini, ketiga siswa tersebut akan mendapat bimbingan pelajaran akademis di sekolah yang meliputi pelajaran Geografi, Sejarah, Matematika, Kimia, Biologi, Fisika dan juga Bahasa Inggris.Semua itu memang terasa berat, namun demi mengharumkan nama sekolah tercinta, semuanya dilakukan mereka bertiga dengan sungguh – sungguh. ”Awalnya aku merasa pesimis karena sekolah kita baru pertama kali mengikuti kompetisi ini, apalagi sekolah – sekolah yang terkenal memiliki banyak murid berprestasi seperti SMA st.Louis, SMA Frateran, SMAN 2 Surabaya, SMAN 5 Surabaya juga mengikuti kompetisi ini. Namun aku harus optimis dan buktikan bahwa SMAK Karitas III tidak kalah dengan sekolah – sekolah lainnya ” Tutup Suryono.

Oleh : Camelia

Ekskul Jurnalisitik SMAK KARITAS 3

Kalo yang ini adalah calon wartawan, presenter, redaktur dan jurnalis dari SMAK KARITAS 3. Mereka berbinar menatap masa depan jurnalisme di sekolah...sebuah tanggung jawab dan kerja keras loh..


Ekskul Band SMA KARITAS 3

Wah kayaknya ini ekskul paling keren deh...gak ada susahnya, happy n fun ya.. Neh band SHE ato WITZLE ya?? Nah ini WITZLE donk, band cewek di SMAK KARITAS 3.


Ekskul Dance SMAK KARITAS 3

Penari-penari modern lagi berlatih nih...gaya mereka pasti keren. Tapi tuh si Lily kog malah bergaya, emang dia dancer ato foto model seh...



Ekskul Olah Raga SMAK KARITAS 3



Kalo ini para jago olahraga SMAK KARITAS 3..Ingat loh Mensana In Corporesano, jika tubuh kita sehat maka jiwa kita harus sehat juga donk...

EksKul Teater SMAK KARITAS 3

Ini kegiatan temen-temen kita yang serius tuh ngikutin ekstrakurikuler Teater...

Ini pose mereka yang penuh peran dan watak...



Suasana Kita Belajar

Guru menerangkan kita murid wajib menyimak agar kita peroleh pengetahuan dengan baik. Jika benar penjelasan sang guru, kita catat dan serap itu sebagai ilmu. Tapi jika salah, kita murid jangan takut untuk mengkritisi penjelasan sang guru...