Banyak orang yang mengetahui jika lebaran, kota besar seperti Jakarta akan menjadi sepi, disebabkan oleh para penduduknya yang mudik ke daerah asal. Namun ada yang berbanding terbalik, banyak orang dari kampung yang datang ke ibukota dengan harapan dapat memperbaiki nasibnya. ada perkataan "ibukota lebih kejam daripada ibu tiri" dan perumpamaan itu ada benarnya juga. Para pendatang menganggap bila mereka datang ke Jakarta, dapat merubah nasib mereka menjadi tak miskin lagi bahkan menjadi orang kaya. Pada kenyataannya bukan jadi orang kaya, mereka menjadi lebih miskin di Jakarta karena kurangnya kemampuan dan juga tidak memiliki ijazah. Banyak diantara mereka akhirnya menjadi pengemis, pengasong, pengamen atau sebagai pembantu rumah tangga.
Banyak cara yang dilakukan oleh para pengungsi untuk mendapat belas kasihan orang lain. Ada yang menggendong anak kecil, memakai baju kumal, berpakaian seperti banci ataupun berpura - pura menjadi orang cacat. Namun sekarang sering diadakan razia untuk memindahkan para pengemis tersebut ke panti sosial. Menurut data tahun 2004 jumlah "gepeng" di Jakarta terdapat 6884 orng yang terdiri dari 49 % pengemis, 35 % pengasong dan pengamen, dan 16 % tidak jelas. Maman Achdiyat, sebagai kadis bina mental dan kesos mengatakan "Kami akan terus berusaha menghilangkan para pengemis, pengamen dan juga gelandangan karena kami ingin pemandangan di Jakarta menjadi lebih indah".
oleh:
Camelia A.R
IBUKOTA LEBIH KEJAM DARIPADA IBU TIRI
Labels: fenomena, lebaran, smak karitas, surabaya
Posted by Suara Karitas III at 1:27 AM 0 comments
Berbagai Tradisi Lebaran
Setelah 30 hari berpuasa akhirnya pada tanggal 1 Oktober, umat muslim merayakan hari idul fitri atau yang sering disebut hari lebaran. Banyak tradisi yang dilakukan oleh umat muslim ketika menyambut hari kemenangan, antara lain berkeliling kota di malam takbiran, melakukan sholat ied dihari pertama lebaran, saling bermaaf-maafan, sungkeman kepada orang tua, mudik, mengunjungi sanak saudara, memberi zakat kepada orang miskin hingga memberikan ”salam tempel” kepada saudara yang masih kecil. Biasanya, beberapa hari menjelang lebaran, umat muslim akan mudik ke daerah asal mereka untuk berkumpul bersama dengan keluarga besar di kampung. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya ataupun kota besar yang lain akan sepi karena banyak ditinggal oleh penduduknya yang mudik. Saat malam takbiran, ada berbagai kegiatan yang dilakukan seperti berkeliling kampung atau kota, berjalan ramai-ramai sambil membawa obor, namun ada juga yang memilih berkumpul bersama keluarga di rumah. Dan esoknya pada hari lebaran tanggal 1 Oktober 2008, umat muslim melakukan sholat ied. Ada sesuatu yang menarik yang terjadi disaat umat muslim melakukan sholat ied, para pengemis baik anak kecil, orang dewasa, dan juga manula telah duduk berjejer dengan tangan mengadah untuk meminta uang dari para jamaah yang telah selesai sholat. Setelah sholat biasanya mereka kembali ke rumah untuk sungkeman kepada orang tua, saling bersalam-salaman dan saling memaafkan, para umat muslim biasanya melanjutkan untuk pergi berkunjung ke rumah saudara ataupun pergi berekreasi. Ada satu lagi tradisi yang banyak dilakukan umat muslim pada saat lebaran yaitu memberikan salam tempel kepada keponakan atau saudara yang masih kecil. Yang memberikan salam tempel adalah orang yang sudah memiliki penghasilan. Jumlah uang yang diberikan pun bervariasi. Namun tradisi itu tidak harus dilakukan, tergantung kemampuan dari masing-masing orang.
Ada juga tradisi yang dilakukan di Solo dan Yogyakarta bila lebaran, yaitu gunungan grebeg syawal. Tradisi itu dilakukan Kraton Yogyakarta dan Solo. Maksud dari gunungan grebeg syawal itu adalah persembahan raja kepada rakyatnya, serta rasa syukur kepada Tuhan YME karena telah melakukan puasa selama sebulan. Gunungan grebeg syawal berisi berbagai hasil bumi seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang akan diperebutkan oleh beribu-ribu warga. Mereka mempercayai bila mendapatkan salah satu bagian dari gunungan grebeg syawal akan mendapat berkah. Dan pastinya masih banyak tradisi lebaran di berbagai daerah di Indonesia.
Oleh: Camelia A.r
Labels: lebaran, liburan, smak karitas, surabaya
Posted by Suara Karitas III at 10:24 AM 0 comments
Hari Liburan Bukan Berarti Hari Santai
Libur lebaran memang begitu menyenyenangkan bagi semua siswa SMAK Karitas III karena sebelumnya semua siswa menghadapi Ulangan Tengah Semester (UTS) selama 6 hari. Penat, bosan dan jenuh seakan menghilang saat hari libur datang. Ada yang mudik ke daerah asal masing –masing, ada yang berlibur ke berbagai kota di Indonesia maupun di luar Negri, namun ada juga yang memilih untuk beristirahat di rumah. Suryono, siswa kelas X2 ini memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktu liburannya di rumah. Memang pada hari Minggu, 28 September 2008 ia pergi ke Malang bersama keluarganya, namun ia tidak menginap karena esoknya ia ingin datang ke simulasi mading di sekolah.Ia mengaku liburan kali ini sangat berbeda dengan liburan – liburan sebelumnya. Dulu bila ia berlibur ke luar kota pasti akan menginap untuk beberapa hari. Dan yang terutama bebas dari belajar dan mengerjakan tugas. Namun liburan kali ini, selama liburan ia harus membaca koran dan mengikuti berita terbaru setiap hari, belajar bahasa Inggris dan juga pelajaran akademis yang lainnya. Itu semua dilakukan untuk mempersiapkan diri karena pada bulan November nanti Ia bersama Dion dan Sonta akan mengikuti OZ deteksi challenge yang diadakan pada saat Espresso Deteksi Con 2k8. ”Aku dan Dion pasti akan berusaha semaksimal mungkin agar membuat keluarga besar Karitas III bangga, dengan memberikan kemampuan terbaik yang kami miliki” janji Suryono. OZ deteksi challenge adalah kompetisi adu cermat yang menggunakan bahasa Inggris. Materi pertanyaannya pun meliputi pelajaran akademis, pengetahuan umum maupun gosip atau berita yang sedang dibicarakan oleh banyak orang. Dan pasti setiap SMA yang mengikuti OZ deteksi challenge tersebut, pasti akan mengirimkan siswa – siswa terbaik yng ada di sekolah mereka. Suryono dan Dion sebagai tim utama dan Sonta sebagai pemain cadangan merupakan siswa terpilih yang diberi kepercayaan untuk mewakili SMAK Karitas III.
Mungkin tahun ini pertama kalinya SMAK Karitas III mengikuti kompetisi adu cermat dalam bahasa Inggris ini, namun persiapan yang dilakukan begitu serius. Mulai bulan Oktober setelah liburan lebaran ini, ketiga siswa tersebut akan mendapat bimbingan pelajaran akademis di sekolah yang meliputi pelajaran Geografi, Sejarah, Matematika, Kimia, Biologi, Fisika dan juga Bahasa Inggris.Semua itu memang terasa berat, namun demi mengharumkan nama sekolah tercinta, semuanya dilakukan mereka bertiga dengan sungguh – sungguh. ”Awalnya aku merasa pesimis karena sekolah kita baru pertama kali mengikuti kompetisi ini, apalagi sekolah – sekolah yang terkenal memiliki banyak murid berprestasi seperti SMA st.Louis, SMA Frateran, SMAN 2 Surabaya, SMAN 5 Surabaya juga mengikuti kompetisi ini. Namun aku harus optimis dan buktikan bahwa SMAK Karitas III tidak kalah dengan sekolah – sekolah lainnya ” Tutup Suryono.
Oleh : Camelia
Labels: lebaran, liburan, smak karitas 3, surabaya
Posted by Suara Karitas III at 12:21 AM 0 comments
